Sastra

Bulan Kesiangan

Pesannya hendak datang
membawa cahaya penerang
ketika hitam membalut bumi
pandangan mencari-cari

Tapi mentari hadir mendahului
baru rembulan menawarkan janji
tertolak pun minta dihargai
seperti pahlawan berjasa abadi.

Cahaya redup ia paksa berikan
mengintip di sela awan-awan
sia-sia teredam siang
ia sangka masih ciptakan bayang

Bulan kesiangan sudah teriris
tanpa cahaya sendiri ia mengais
daya siapa ia bawa-bawa
harapnya dikira ia yang berjasa.

Tinggi ia melampaui angkasa
Tak pernah bisa tanpa akunya

Lamat

Hidupku bukan tentang seekor elang
gagah di langit, sayap panjang membentang
paruh menjerit kirimkan pesan garang
kepada dunia seperti selalu menantang

Bukan juga bintang-bintang pengepung bumi
menyaksikan setiap kisah dari segala sisi
simpanan jawab akan kemarin dan nanti
tempat biasanya bertambat mimpi-mimpi.

Bukan pula kerumunan anai-anai malu
menghindari tatapan mata penggerutu
di ruang sempit diam-diam gerogoti kayu
tahu-tahu peradaban runtuh menjadi debu.

Bukan singa terperangkap lapar lesu
mengintai mangsa dari balik perdu
menghasrati perut kenyang selalu
impian menggumpal tak terurai waktu

Jika kau berjumpa jejaring rumah laba-laba
seketika kau mengira itu perusak suasana
sarang hina bermukimnya satwa tanpa guna
hadir menyela ruang dan kehendak manusia.

Kecuali datangnya sangka itu kau rela menunda
di samping kotor lusuh akan tampak indahnya
di balik yang lamat-lamat ada tegas juga
dalam helai rapuh tersimpan kekuatan tak terduga.

Mudah terlibas, jejaring rapuh terajut lagi
Tempatnya sering di sudut-sudut sepi
jemu dan jengahmu tak membawa arti
selain kesediaan menerima yang tersaji.

Sedikit watak lamat sekali kau mengerti
siapa apa aku mungkin bisa kau kenali.

Tak Lelah

Tak Lelah (2012)

Tidak terbayang jika air bisa bicara, seperti apa keluh kesahnya. Mungkin gemuruh yang tertangkap telinga itu cara ia menyampaikan pesan letih yang ia rasa. Jauhnya jarak yang sudah ditempuh belum menandai dekatnya pada akhir perjalanan. Bahkan akhir itu mungkin tak pernah ada. Ia akan kembali di titik bermulanya.

Tapi air agaknya bukan pengeluh. Ceruk-ceruk berliku yang sudah pernah ia lalui ia tempuhi lagi. Berkali-kali. Ia seperti terikat sumpah untuk tak pernah membiarkan dasar-dasar kali terpapar langsung sinar matahari. Segurat ruang di bumi yang telah memberinya tempat mengalir itu tak akan ia biarkan menderita dalam kering retak menganga.

Ke mana tujuan alirannya, air tak pernah risau, tak sibuk memimpikannya. Bagian lain dari semesta yang bersama-sama menentukan, dan air menerima saja. Apakah ia harus terjun dari ketinggian, dibelokkan ke persawahan, dikucurkan dari mulut keran-keran, membelai kulit indah perempuan mandi, menggenang di selokan-selokan bau, ataukah segera membumbung ke langit menjadi mendung, baginya adalah peran sama untuk dilakoni.

Orang bilang laut akan menjadi tempat terakhir perjalanan jauhnya. Tapi ternyata di sana air tetap tak henti bekerja. Ia masih harus menampari batu karang yang pongah di tepian, membuktikan bahwa yang keras itu pun takluk pada kelembutan.

Sendiri Daun Ilalang

daun ilalang

Di tengah pacu hidup, memaksa diri mencari secuil perhatian di antara mata yang sudah enggan saling memandang, manusia lupa, ada selembar daun ilalang di ketinggian sana yang tak henti bergembira, bahkan ketika kabut menyandera kawan-kawannya. Daun runcing ini tahu, ia tetap selalu bersama di kedalamannya. Karena itu tak ada cemas padanya akan rasa kesepian. Sendiri adalah penggalan dari alur waktu yang mesti dijalani. Sendiri bukan sepi, tapi sunyi, langkah awal menuju sunyata.

Seandainya manusia bisa mendengar bisik bahagia daun ilalang ketika merunduk dibelai angin lembah, mungkin ia sedang berkata, “Kasihan manusia itu, mereka suka menyiksa diri dengan mimpi-mimpi, yang membuat mata mereka lamur dari segala yang sudah ada dan tersaji. Padahal mereka sudah memiliki lebih banyak dari apa pun; apa lagi dari selembar daun yang tak bisa beranjak! Bukankah bahagia sudah bisa mereka rasakan sekarang juga? Tapi mereka memilih menunda dengan syarat-syarat tak terhingga dan waktu yang lama.”

Bukan manusia namanya, kalau bisa menangkap kegembiraan tarian daun ilalang. Manusia kebanyakan itu adalah yang pekak dari kebisuan, yang maunya tetap melihat bayangan semu di pelupuk mata terpejam, yang tidak beristirahat ketika tidur, dan tak juga jaga ketika mata terbuka. Apa yang masuk ke rongga mata selalu bercampur dengan yang dihasrati. Itulah yang dianggap manusia lumrah di jaman ini.

Akhirnya daun ilalang pula yang disalahkan, kenapa sampai tumbuh tanpa kehendak manusia. Adanya tak pernah diharapkan, binasanya dianggap tertib dan kebersihan. Bisik bahagia ilalang tak sempat menerobos ke lobang telinga manusia, sebab ia keburu dibabat musnah. Itu pun membuktikan kebenaran bisikannya tadi.

Bukan Ulat Lagi

Bukan Ulat Lagi

Once touched, they never get off the ground

Jangan sentuh sayap kupu-kupu dengan tangan usilmu itu. Hasrat pikiran dalam rongga kepalamu hanya akan merusaknya. Sepasang membran tipis penuh warna mencolok memang telah memikatmu, tapi kau rupanya tak puas dengan memandangnya saja. Kepakan sayap yang pelan saat hinggap pada bunga kauhentikan dengan jari-jarimu, kaujepit hingga lumpuhlah kekuatan terbang makhluk rapuh itu.

Kau tidak mau tahu penderitaannya dulu sewaktu menjadi ulat bulu; dicengkeram oleh kerakusan, keinginan, dan mimpi-mimpi yang tak pernah terpuaskan. Kamu abaikan saja segala upaya dahsyatnya untuk berubah menjadi keindahan lewat pertapaan di ruang pengap, sempit, dan jemu. Kau baru jumpai dia setelah semua warna cemerlang itu menampak di matamu.

Padahal di sebelah itu, ada sisa kulit kepompong yang sudah melompong, ada daun kering penuh dengan bolong-bolong, tanda-tanda dari masa lalu. Tapi kau tak sedikitpun sanggup menghimpun serpihan yang ada menjadi suatu pengetahuan yang utuh. Kau hanya mau tahu kalau kupu-kupu pastilah selalu bahagia; dulu, sekarang, dan nanti, bahkan jika tanganmu itu sudah menghancurkan sayapnya.

Jangan sentuh sayap kupu-kupu, ia tak akan bisa terbang lagi. Bergegaslah belajar, Nak.

Suara Inka

Lirih mengalun di kamar sunyi
merambat antara lukisan berbingkai
merdu suaramu seolah tak henti
mendayu, mengayun, membuai.

Perlahan merasuk dalam dengar
runtuhlah dinding-dinding pembatas,
pada keluasan alam aku terpapar
lebih dalam sanggup kuhela nafas.

Suaramu antarku susuri jalan pedesaan
jumpai flamboyan tua kesepian,
temani aku berteduh pada naungannya
bermandi guguran kembang jingga.

Serentak datang lengking nada tinggi
melemparku atasi tebing berundak,
menyapa air sebelum jatuh di tepi
gemuruhnya saat terjun tak terelak.

Nada rendah menuntun ke bawah
menuju kolam airnya beriak
tempat berkembang teratai indah
segar selalu layunya tertolak.

Ujung lagu akhiri perjalananku
pulangkan kembali ke ruang sesak,
bergumul bersama buku dan debu
yang berjejalan penuh dalam rak.

Kembara tak mesti menjejak kaki
antar badan lampaui jarak ruang,
cukup dalam pikir melukis imagi
sepenuh rongga dada melayang,
suaramu takkan usai mendampingi
hingga sadar jiwaku yang hilang.

oleh sabar s.
buat Inka Christie

Inka

Bumiku…


Harus kucatat hari ini,
entah siapa yang membaca nanti,
seperti mendesak sangat,
mungkin besok tak lagi sempat.

Ini siang udara panas sekali,
di kotaku yang tinggi,
di musim air biasa luruh,
sekarang mengalirkan peluh,
awan mendung enggan memayung,
warna lumut coklat murung.

Kusamakan dengan badanku,
waktu sesekali sakit flu,
rambut rontok, kepala panas,
kulit bersisik mengelupas.

Bumi pasti lagi demam berat,
apa yang akan ia kelupas sekarat,
apa yang nanti rontok darinya,
kalau bukan si manusia?

Dari Melihat


Seorang pemuda menatap tak sengaja pria renta,
kulit menggulung disundul garis tulang iga.
Sentak pikiran membanjirkan ribuan tanya,
mengantar ia jauh mengatasi segala sengsara.

Lelaki tua memandang daun berpisah ranting,
melayang turun hingga tanah terpelanting.
Sadarlah karenanya ia, hidup ini seperti apa,
laku melingkar saja kembali ke tempat semula.

Kita sendiri, berapa banyak melihat sudah,
tapi ke mana saja terantar olehnya?
Penglihatan yang girang tanpa lelah,
malah sering membutakan jiwa.

Pengembara


Suatu kali di masa yang telah jauh terlewati
Saat kita hendak mencari mimpi-mimpi
Tersesat dalam kenangan menuanya hari-hari.

Mimpi itu sempat merekah di musim semi
Bersinar, berpendar laksana datangnya mentari
Cakrawala keemasan menembus diri ini.

Sesiapa yang mengenali burung berkicau
‘Kan berupaya meraih mimpinya selalu
‘Kan berupaya senantiasa temukan jalannya, “Jalanku!”

Pengembara, kembara di angkasa
Tatkala hari ditembus surya.
Pengembara, kita tahu siapa kita
Sebab pahami tiap jengkal ruang dan masa.
Pengembara, dulu kita temukan cinta
Cinta bergelora dan seketika itu binasa.

Datanglah padaku dan raih ‘tangan’ ini
Kenangan masa lalu itu menyeruak lagi
Bersamamu ingin kuhidupkan semua mimpi.

Dari getarnya rongga dada
Tubuh merasakan hangat dan cinta di dalamnya
Kutanyakan bilakah musim semi tibanya.

Pernahkah kita sungguh mengerti?
Akankah kita mengembara tanpa henti?
Suatu hari nanti kita ‘kan bermukim diri.

Terjemahan ekspresif dari Caravan by Kitaro

Kitaro – Caravan

Pinggiran Panggung


Ibarat di atas panggung teater, peran hidup kita ini adalah figuran yang terselip di antara figuran lain dan dinding dekorasi. Ditambah dengan tinggi badan yang minimum serta busana yang mesti seragam, kehadiran kita nyaris tak pernah tersapa. Para penonton yang berjajar di tribun dengan tiket mahal itu datang bukan untuk mencari tahu siapa yang tak tampak, tapi untuk memuja-muja sang bintang yang sudah pasti selalu disorot cahaya. (Rupanya bintang tidak memancarkan cahayanya sendiri.) Kehadiran tak kentara kita pun hanyalah untuk meninggikan bintang itu; seperti gerbong restorasi yang membuat lokomotif semakin tersorok ke depan.

Tapi kita tak pernah bersungut-sungut menghadapi punggung-punggung figuran lain, yang menambah jarak kian jauh dari pusat cerita itu. Kita tersenyum saja ketika sutradara menyuruh tersenyum. Dan kalau harus menangis itu bukan karena kita bersedih sebab terpinggirkan terus di panggung pertunjukan. Tawa-tangis bukan untuk pribadi kita, tapi permainan peran yang total tanpa protes, cemoohan, maupun hujatan. Kita nikmati saja selalu secuil ruang dan adegan yang dijatahkan untuk kita ini. Sebab ketika nanti tirai diturunkan, kita tak ingin merasa belum pernah berada di panggung ini yang satu kisah dengan bintang-bintang hebat itu.

Di depan gerbang kematian, apakah kita mau belum merasakan hidup?