Lamat

Hidupku bukan tentang seekor elang
gagah di langit, sayap panjang membentang
paruh menjerit kirimkan pesan garang
kepada dunia seperti selalu menantang

Bukan juga bintang-bintang pengepung bumi
menyaksikan setiap kisah dari segala sisi
simpanan jawab akan kemarin dan nanti
tempat biasanya bertambat mimpi-mimpi.

Bukan pula kerumunan anai-anai malu
menghindari tatapan mata penggerutu
di ruang sempit diam-diam gerogoti kayu
tahu-tahu peradaban runtuh menjadi debu.

Bukan singa terperangkap lapar lesu
mengintai mangsa dari balik perdu
menghasrati perut kenyang selalu
impian menggumpal tak terurai waktu

Jika kau berjumpa jejaring rumah laba-laba
seketika kau mengira itu perusak suasana
sarang hina bermukimnya satwa tanpa guna
hadir menyela ruang dan kehendak manusia.

Kecuali datangnya sangka itu kau rela menunda
di samping kotor lusuh akan tampak indahnya
di balik yang lamat-lamat ada tegas juga
dalam helai rapuh tersimpan kekuatan tak terduga.

Mudah terlibas, jejaring rapuh terajut lagi
Tempatnya sering di sudut-sudut sepi
jemu dan jengahmu tak membawa arti
selain kesediaan menerima yang tersaji.

Sedikit watak lamat sekali kau mengerti
siapa apa aku mungkin bisa kau kenali.

Hadir di Ulang Tahun AMFPA ke-60 di Barcelona

Perjalanan ke luar negeri kali ini tidak seperti sebelumnya. Ini adalah tantangan. Ibu saya, yang saya daftarkan sebagai pendamping pada Agustus 2016, mengalami kecelakaan tepat dua pekan sebelum keberangkatan. Ia mengalami cidera patah di pergelangan kaki. Pendamping pengganti sudah tidak mungkin diupayakan, mengingat prosedur yang rumit dan panjang.

Saya bisa saja memutuskan untuk absen dari acara konferensi AMFPA Internasional ini, dan sekaligus melewatkan perayaannya yang ke-60 di Barcelona. Tapi saya bertekad tetap berangkat bersama Ibu, yang saya yakin kondisinya cukup baik setelah menjalani operasi. Ia akan duduk di kursi roda sepanjang kegiatan.

Sebelum perjalanan itu dimulai, pikiran ini tak sanggup merangkai gambaran bakal seperti apa jadinya ketika dua orang disable bepergian bersama sejauh belasan ribu kilometer, menyeberangi samudera melalui angkasa. Hanya keyakinan bahwa semua bakal baik-baik saja yang menjadi bekal keberangkatan itu.

Dan ternyata, semua memang baik-baik saja. Perayaan ulang tahun AMFPA Internasional ke-60 itu saya hadiri dengan kegembiraan, bertemu kawan seniman dari berbagai negara, mengikuti seremoni pembukaan pameran bersama di Museum Maritim, dan mengunjungi tempat-tempat eksotis di kota pantai yang dingin itu.

Barcelona adalah kota yang sudah terbangun dengan sangat baik. Pengguna kursi roda tak banyak menemui kesulitan untuk menyusuri jalan-jalannya. Bahkan, medan yang bersahabat itu sering digunakan oleh warga setempat untuk bermain skate-board atau sepeda. Mereka tampak tidak risau oleh terik matahari yang menyorot begitu terangnya, sebab itu masih tak membendung suhu dingin yang dihantar oleh angin.

Saya bersyukur, di kota indah ini saya bisa untuk satu kali lagi menyenangkan hati Ibu, terlepas dari kondisinya yang berat.

Momen Indah Lukisan

Saat seperti ini, jika saja lukisan-lukisan bisa bersaksi, adalah saat menggembirakan bagi mereka. Yaitu saat berpasang-pasang mata manusia menelusuri detil wajahnya yang mengekspresikan beragam pesan atau cerita. Lukisan kodratnya untuk dilihat, sehingga sebelum perjumpaannya dengan pandangan mata, mereka belum ada.

Tapi adanya lukisan tak pernah disadari oleh dirinya sendiri. Keindahan yang mereka bawa-bawa tak dirasakannya sendiri. Mereka ‘perlu’ manusia untuk memungkasi proses mengadanya.

Sebutlah satu lukisan yang sangat indah, sudah agak berapa lama usai dinamai senimannya. Ia tergulung tanpa bingkai, terkunci rapat dalam peti baja yang dikubur di kepadatan tanah. Tak lama kemudian, senimannya meninggal. Saya tidak tahu bagaimana keindahan–yang dalam kategori objektif itu–bisa disebut ada, sebab tak ada interaksi dengan subjek penikmat.

Lukisan terkubur itu mungkin–jika bisa bersaksi–akan menyesal kenapa pernah dibuat, tapi tak pernah punya kesempatan menampakkan diri.

Maka ruang-ruang presentasi mutlak diperlukan bagi karya rupa ini. Tak mesti sebuah galeri megah. Sekedar bengkel tempat bekerja pun cukup bila bisa menghadirkan tamu untuk bertandang dan memandang. Dan di saat itu, lukisan akan memancarkan segala perasaan seniman sewaktu berkarya dulu.

Dikunjungi Gubernur

Pengalaman pada 20 Mei 2015 silam di Studio 6 Emtek City Daan Mogot, Jakarta, rupanya sangat berkesan bagi bapak Ganjar Pranowo. Saat itu beliau membeli satu karya lukis saya dalam acara lelang, yang merupakan bagian dari rangkaian acara malam anugerah Liputan6 Awards SCTV.

Satu setengah tahun telah berlalu, namun Pak Ganjar dengan segala kesibukannya sebagai gubernur itu masih ingat siapa seniman yang lukisannya telah menghias ruang tamunya.

Lalu pada Minggu pagi tanggal 12 Februari 2017 ini, tiba-tiba saya–selagi masih menikmati sarapan bersama istri–didatangi seorang pria berbadan tegap yang memperkenalkan diri dengan santun sebagai staf gubernur. Saya meminta frasa ‘staf gubernur’ itu diulang untuk meyakinkan diri saya sendiri, dan ternyata saya tidak salah dengar. Gubernur Jawa Tengah akan singgah di galeri saya.

Di saat yang sama, pak Ganjar yang sejak pagi menempuh perjalanan dari Semarang dengan sepeda itu masih menemui para penyandang disabilitas kota Salatiga di selasar Kartini (trotoar Jalan Kartini yang menjadi ruang publik). Saya masih memiliki waktu untuk berbenah sekitar satu jam sebelum kedatangannya yang tampak biasa saja, layaknya rombongan tour sepeda pada umumnya.

Biasanya, saya sebagai rakyatlah yang harus sowan ke istana para pimpinan negara dengan melewati aturan protokoler yang ketat. Itu pun jika ada keberuntungan dalam bentuk undangan. Tapi kali ini dengan tak terduga justru saya yang didatangi. Kehadiran pak Ganjar didampingi pula oleh Plt Walikota Salatiga, Bp. Achmad Rofai, Kapolsek Sidomukti, dan Ketua Satpol PP Salatiga.

Ada semacam reuni singkat dalam kunjungan pak Ganjar ini. Beliau menceritakan apa yang membuatnya ingin berkunjung ke galeri saya selagi masih di kota Salatiga. Lukisan burung gereja hinggap di pohon murbei yang beliau beli dari saya satu setengah tahun silam itu telah menjadi bahan motivasi untuk setiap tamu-tamunnya. Maka perlulah kiranya dicari tahu, di manakah pelukisnya tinggal, kira-kira demikian jika saya mencoba merekonstruksi alur pikiran beliau.

“Oo, di sini to, kamu tinggal,” begitu kalimat yang diucapkan pak Ganjar selagi melangkah ke dalam ruang galeri saya.

Kunjungan beliau yang sudah pasti kehormatan besar bagi saya ini saya pastikan tidak sia-sia. Saya menghaturkan satu buku memoar saya, yang disambut dengan memborong beberapa eksemplar tambahan. Semoga buku itu dapat menjadi bahan motivasi yang lain lagi.

Mata Besar

Menjadi pelukis itu tidak pernah sekedar urusan popularitas ataupun kekayaan. Ada nilai-nilai yang turut diperjuangkan, utamanya kejujuran.

Margaret Keane akhirnya menyadari itu, meski kesadarannya ini membawa konsekuensi harus berpisah dari kemewahan hidup yang sudah lama ia nikmati, tapi sekaligus membebaskannya dari tekanan jiwa.

Putri semata wayangnya, Jane, sudah dewasa dan tak bisa lagi dobohongi. Gadis remaja ini harus tahu bahwa semua lukisan yang begitu dikenal publik sebagai karya ayah tirinya, Walter Keane /:wolter kin:/, sebenarnya dilukis oleh ibu kandungnya, Margaret.

Suatu pagi, Jane memaksa masuk ke dalam kamar yang selalu rapat terkunci, di mana ibunya berjam-jam bermukim di sana tanpa pernah keluar, dan ia pun dilarang masuk. Betapa kagetnya Jane ketika mendapati tubuh ibunya terbaring kelelahan di depan lukisan yang masih basah di ruang rahasia itu. Lukisan itu, gambar anak-anak bermata lebar, sudah lama membawa nama besar bagi sang ayah tiri.

“Aku tahu semuanya, Ibu,” katanya menolak upaya penjelasan Margaret tentang penipuan yang dilakukan orang tuanya. Demi kebahagiaan anak yang menginginkan kebenaran, Margaret membuat keputusan untuk meninggalkan suaminya; menghentikan persekongkolan itu. Ia sendiri sejak awal tidak pernah suka dengan skenario yang dilakukan Walter. Tapi ia selalu merasa terintimidasi di bawah tekanan suami yang piawai berdusta itu.

Setelah memastikan diri bahwa kedua perempuan ini selamat dari ancaman fisik yang bisa dilakukan Walter, Margaret dan putrinya mulai bicara ke media, memaparkan yang sebenarnya. Polemik pun terjadi di koran-koran, karena tentu saja seorang penipu tidak akan mau mengakui dustanya.

Seorang penipu adalah orang yang piawai mengukir topeng kepribadian. Personanya ceria, ramah, dan ucapan mulutnya memukau. Banyak orang merasa nyaman dalam perjumpaan pertama. Penipu jarang bersikap menyebalkan pada awal masa pertemanan karena ia perlu memancing mangsa masuk perangkapnya. Sedang orang jujur sejak awal mungkin menyebalkan karena ia tidak hendak menyembunyikan apa pun. (Walaupun bukan berarti bahwa semua orang yang menyenangkan itu penipu.) Seiring lamanya pertemanan, dua kutub ini akan terbalik pada akhirnya.

Setinggi-tingginya celoteh seorang penipu, hanya akan sebatas layak ditampung media gossip. Diskusinya tak jauh beda dari kebisingan di terminal atau lampu merah. Sebelum konflik terjadi, Margaret pernah membahas pandangan keseniannya dengan seorang jurnalis, dan mulai menyebut nama Modigliani–pelukis Italia awal abad XX. Tapi Walter buru-buru memotong diskusi itu dengan alasan tak perlu serius. Sesungguhnya di sini Walter merasa tidak nyaman jika harus memasuki wilayah di luar pengetahuannya. Ini bertolak belakang dengan sesumbarnya yang pernah belajar di Beaux-Art, Paris.

Maka terhadap pengakuan Margaret di media tentang kejahatan pemalsuan yang dilakukan Walter, Walter membela diri. Ia bahkan menuding balik istrinya sebagai pembohong. Kegaduhan seperti ini tidak akan membawa untung bagi siapa pun, kecuali pemilik media gossip yang oplahnya meningkat. Margaret–disarankan oleh putrinya–membawa kasus ini ke ranah hukum.

Dan lagi, topeng persona dikenakan Walter di hadapan hakim yang mulia serta para juri di sidang pengadilan. Walter dengan rasa percaya diri yang tinggi menjalani sidangnya tanpa pengacara. Hakim yang baik, yang menginginkan kebenaran, akan melampaui lapisan topeng apa pun yang dikenakan terdakwa. Mulut yang tersenyum dan berceloteh sudah tidak ada artinya lagi di sidang yang terhormat ini. Hakim menyuruh sepasang suami istri yang berseteru itu–Margaret dan Walter–menunjukkan kemampuannya masing-masing dalam melukis. Segeralah terungkap bahwa Walter tak pernah bisa menggoreskan warna. Maka segala pengakuannya yang muluk-muluk, yang katanya pernah belajar di Beaux-Arts, Paris, terbukti tak punya dasar faktual. Apa lagi nama besarnya sebagai pelukis the lost children with the big eyes.

Akhir dari konflik ini adalah bercerainya pasangan Keane itu. Sementara Walter tidak pernah mau mengakui penipuannya, ia tetap tak bisa menunjukkan satu pun karya yang baru. Ia menjalani sisa hidupnya sebagai orang yang bangkrut hingga kematiannya–sebuah imbalan yang sepadan untuk sebuah keserakahan. Sedang Margaret memperoleh kembali kehidupannya yang bahagia bersama suami lain, dan tetap setia dengan dunia lukis.

***

Lewat film berjudul Big Eyes ini mata penonton diajak untuk terbuka lebar-lebar atas setiap karya lukis yang dilihatnya. Benarkah itu hasil kerja keras orang yang tengah tersenyum lebar mengakuinya? Atau jangan-jangan ada tangan lain yang sesungguhnya bekerja di sana?

Film berdasar kisah nyata ini membintangkan Christoph Waltz sebagai Walter Keane, dan Amy Adams sebagai Margaret. Christoph Waltz sekali lagi memukau penonton lewat aktingnya. Perannya sebagai Walter berhasil membuat penonton geram terhadap karakter yang dimainkannya itu. Sebelumnya, peran antagonis yang ia mainkan di film Inglourious Basterds–sebagai kolonel SS, Hans Landa–mengagetkan jagad perfilman. Ternyata dunia memiliki aktor sehebat itu. Di mana saja sebelumnya? Kenapa Mr. Waltz seolah tiba-tiba muncul setelah umur paruh baya?

Amy Adams juga cukup luwes bermain peran sebagai pelukis; tidak mengecewakan. Saya berkali-kali menyaksikan akting yang canggung dalam adegan menggoreskan kuas pada kanvas. Tidak jarang pula tampak adanya tangan pengganti untuk adegan ini di film-film lain. Tapi rupanya tangan pengganti di dunia sinema beda urusan dengan dunia lukis. Sebuah lukisan yang di dalam prosesnya melibatkan tangan lain (artisan) di samping tangan seniman aslinya, mestinya dinyatakan sebagai karya kolaborasi–sebagaimana juga dalam dunia sastra. Sedang jika penyandang nama (credit taker) ternyata tak sedikit pun berpartisipasi di dalam proses melukis itu, maka itulah kejahatan seperti yang dilakukan oleh Walter Keane. Di Indonesia, berdasar pasal 380 KUHP, tindakan seperti ini dianggap sebagai perbuatan curang dan dapat dikenai hukuman penjara maksimal selama dua tahun delapan bulan.

Seni itu bertitik berat pada proses, bukan hasil semata.

Dari film yang disutradarai Tim Burton ini kita bisa belajar mengidentifikasi penipu di sekitar kita. Adegan dan dialog yang dilakoni tokoh bernama Walter Keane mewakili ciri-ciri yang perlu kita kenali. Namun terlepas dari semua itu, ada inspirasi yang bisa diambil dari tokoh antagonis ini, yaitu usahanya untuk membawa konten karya lukis ke publik melalui reproduksi berupa poster. Tidak ada yang salah dengan tindakan ini, hanya saja kredit dan royalti tetap harus diberikan kepada pelukis yang sesungguhnya. Sedang Walter Keane mengambil semuanya dari yang berhak, dari Margaret.

Plagiarisme adalah masalah klasik dalam dunia seni, namun agaknya tak kunjung usang juga.

Apa Seni Itu

Tulisan berikut adalah hasil perenungan saya berdasar pengalaman di bidang seni lukis dan pengamatan sekilas terhadap praktek kesenian di sekitar saya. Saya tidak bermaksud menciptakan klaim definitif yang mutlak benar, tapi sekedar berbagi wacana kepada pembaca. Siapa pun boleh sependapat ataupun menolak.

Apakah seni itu, menurut saya? Manusia berproses, itulah seni. Definisi ini mengandung dua unsur. Pertama, manusia. Penegasan unsur manusia adalah untuk membedakannya dari unsur alam lain. Setiap hari saya merasa takjub dengan indahnya punggung gunung Merbabu yang tampak menjulang di luar jendela. Tapi gunung Merbabu tidak diciptakan oleh manusia. Dia bukan seni.

Unsur kedua adalah proses. Proses mengindikasikan adanya gerak dan perubahan, yang kemudian ada hasil akhir. Tapi ketimbang hasil akhirnya, proses adalah inti dari seni. Dan proses ini tidak terbatas pada hal-hal yang dirasa indah saja, sebagaimana awam cenderung mengartikannya demikian. Seni kontemporer banyak tampil dalam wujud buruk rupa. Tidak mengagetkan pula adanya frase ‘seni perang’. Perang di mana pun membawa kesengsaraan. Tapi perang disebut-sebut memiliki seninya. Yang dimaksud adalah seni sebagai strategi, teknik, taktik, dan metode. Singkatnya, seni itu proses.

Berdasar definisi ini, kita bisa menakar tinggi rendahnya nilai sebuah hasil karya seni. Yaitu dengan mengukur seberapa banyak campur tangan manusia sepanjang prosesnya, dibanding faktor non manusiawi yang turut dilibatkan.

Mengapa lukisan dinilai lebih mahal dibanding fotografi, meski keduanya sama-sama seni rupa dua dimensi? Fotografi itu seni, karena untuk menghasilkannya telah ada seseorang yang bersusah payah di belakang kamera. Tapi dibanding lukisan, kadar manusiawinya lebih banyak lukisan dalam proses penciptaannya. Sedang fotografi sangat didominasi oleh kekuatan teknologi. Karena itu tidak mengherankan jika seni lukis selalu dihargai jauh lebih mahal dibanding seni fotografi.

Bagaimana dengan benda-benda alam yang diolah manusia? Suiseki dan batu mulia adalah karya seni karena manusia telah melakukan pengolahan atas bebatuan yang dipungut dari alam. Tapi sebongkah batu belaka di ujung pematang sawah bukanlah karya seni. Apakah bonsai juga termasuk seni? Meski sebatang pohon tumbuhnya oleh kekuatan alam, tapi ketika manusia sudah ikut campur dalam mengarahkan bentuk pertumbuhannya, itu menjadi seni.

***

Bicara tentang hasilnya, karya seni ada yang melekat pada senimannya, ada yang terpisah. Seni peran dan pertunjukan adalah seni di mana pelakunya akan terus terbawa ke dalam hasil keseniannya. Kita tidak bisa menyaksikan seni tari tanpa melihat adanya manusia yang bergerak di sana. Lantunan lagu tak mungkin terdengar tanpa ada suara manusia yang menyanyikannya. Bahkan tak jarang sosok penyanyi itu tampak utuh di atas panggung atau dalam rekaman video, sehingga dapat langsung dikenali oleh publik penikmat.

Sedang seni rupa hasilnya terpisah dari pembuatnya. Sebuah lukisan di ruang pameran atau galeri tidak serta-merta menyertakan sosok senimannya. Kehadiran sang seniman (perupa) biasanya diupayakan lewat signature atau goresan nama di satu sudut karya itu. Tapi itu tidak menjamin langsung dikenalnya si perupa oleh publik tanpa adanya pewartaan di media lain yang mendukung.

Dengan fakta ini, adalah menjadi tantangan bagi pelaku seni rupa untuk berjuang lebih keras guna menghadirkan diri ke tengah publik. Kehadiran sosok seniman di samping karyanya bukan semata-mata soal popularitas atau ketenaran. Ini adalah untuk memberi bobot tambahan pada karya itu. Sudah menjadi standar berpikir manusia untuk mencari-cari sebab dari suatu yang ada. Maka ketika ditemukan suatu keindahan artistik, pasti akan muncul pertanyaan tentang sosok di balik keindahan itu. Tanpa ditemukannya sosok itu, keindahan tetap saja keindahan, tapi menyisakan pertanyaan. Dan umumnya manusia merasa resah di dalam tanya yang tak terjawab.

Berbagi Gagasan dan Semangat

Undangan yang saya terima dari Politeknik Negeri Bali tahun 2015 lalu tidak bisa saya hadiri karena semua penerbangan ke Denpasar dari Jogjakarta dibatalkan bersamaan dengan meletusnya gunung Raung. Sedang pada undangan tahun ini, saya bertekad untuk menghadirkan diri ke tengah-tengah mahasiswa yang pasti sudah lebih bersemangat untuk menyambut saya.

“Motivasi dan Pelatihan Minat Bakat #2”, demikian acara yang saya hadiri sebagai narasumber pada 23 Juli itu. Saya berkeyakinan bahwa audiens yang saya hadapi telah memiliki semangatnya masing-masing. Sehingga apa yang saya sampaikan di atas panggung itu bukan untuk mendorong-dorong mereka, tapi sekedar memantik sekilas cahaya kecil di depan jalan kehidupan mereka, agar bisa untuk menambah laku meski satu langkah saja.

Minat dan bakat mungkin belum terungkap bahkan hingga bilangan usia sudah tidak bisa lagi dibilang sedikit. Ini seperti menyusuri lorong tanpa cahaya–tak tahu mau ke mana. Dalam situasi seperti ini yang diperlukan adalah cahaya yang menerangi ruang di depan untuk ditapaki, bukan sekedar dorongan dari belakang.

Terhambatnya pengungkapan minat sering kali karena seseorang sudah terlanjur digerujug dengan fasilitas. Ia mengira apa yang membuatnya senang adalah minatnya. Tapi jika kesenangan itu tidak bisa disublimasikan menjadi karya, itu hanya hura-hura. Fasilitas yang memudahkan hidup juga berpotensi membutakan seseorang dari kekuatan yang dibawanya sejak lahir, yaitu bakatnya.

Mengingat generasi sekarang begitu dimanjakan dengan sarana kemudahan hidup yang canggih, saya menantang para peserta seminar untuk–dalam satu hari saja, entah kapan–menjalani hidup rutinnya dengan tiga pilihan keterbatasan. Pertama, mengikat kedua tangan di punggung untuk menghambat fungsinya, kedua menutup dua mata hingga tak bisa melihat, dan terakhir menekuk lutut dan berjalan dengan dua tangan. Pilihan keterbatasan ini harus dilakukan dalam waktu seharian penuh dengan kegiatan rutin seperti biasa.

Dengan bentuk tantangan ini saya bermaksud agar seseorang bisa membongkar rutin yang mudah menjadi sulit, hingga tercetus gagasan untuk menciptakan cara atau alat bagi mereka yang hidupnya memang benar-benar terbatas. Kemudian muncul rasa syukur akan keadannya yang selama ini sudah dijalani. Tantangan seperti ini akan saya ajukan pada siapa pun yang ingin mendobrak tembok pembatas.

***

Konon sepeda roda dua tercipta akibat letusan gunung Tambora yang nyaris melumpuhkan kehidupan penghuni planet bumi. Langit di benua Eropa tertutup abu vulkanik hingga berbulan-bulan. Rerumputan tak bisa tumbuh. Kuda-kuda penarik kereta mati kehabisan bahan pangan. Sementara manusia masih butuh perpindahan ruang; mobilitas. Lalu terpikirlah oleh Baron Carl von Drais untuk membuat ‘kuda elok’ berupa dua roda yang dipasang pada kerangka yang ditumpangi manusia dan dikayuh dengan kaki.

Tanpa letusan gunung Tambora yang kejam itu, mungkin planet ini belum akan segera diperkenalkan pada sepeda roda dua. Demikianlah, penemuan dan gagasan cemerlang itu sering kali terpercik dari keterhimpitan.

Tanpa Bingkai

Satu cara untuk mengemas lukisan tetap cantik tanpa beban pemasangan bingkai adalah dengan melukisi tepian kanvasnya. Dengan memasang staples di bagian belakang span-ram, sisi samping lukisan akan menyisakan ruang yang cukup luas untuk melanjutkan goresan dari permukaan depan.

Satu kesulitan tambahan–yang tidak cukup merepotkan–adalah saya perlu membolak-balik kanvas, hingga menyebabkan ruang di sekitar menjadi belepotan oleh cat yang belum kering. Tapi ini sepadan dengan hasilnya.

Lukisan tak berbingkai seperti itu–yang disebut sebagai lukisan panel–mengesankan sebuah sikap kemandirian. Ia hadir tanpa tergantung pada unsur lain. Tepiannya yang melanjutkan gambar depan seperti hendak mengatakan bahwa proses kreativitas tak mau diakhiri. Ketersediaan medium tak pernah cukup mewadahi pikir dan rasa seniman, hingga sisa ruang terkecil pun tetap disambut dengan ekspresif.

Ya, kira-kira begitu saja refleksi pengalaman saya untuk yang satu ini.

SAM_4626

Tumbuh Saja

Jika harus berpikir pragmatis, untuk apa buah nangka kecil ini memaksa tumbuh di ranting yang rapuh? Nanti ketika buahnya membesar, tidakkah ia akan membebani pohon yang belum sanggup menopang bobotnya? Bisa diduga bahkan, bakal buah ini akan gugur sebelum sempat masak.

Ternyata dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak terikat oleh tujuan. Sesuatu tumbuh karena memang perlu tumbuh. Proses itu sendiri bergeser menempati posisi hasil.

Sedang umumnya manusia cenderung tidak sanggup menanggung rasa kehampaan, bahwa suatu kejadian tidak harus memiliki tujuan. Fakta bahwa ada yang memang harus sia-sia itu sangat membebani rasa.

Tapi jika kita ingat dulu pernah berlarian di bawah derasnya guyuran hujan, tanpa bermaksud pada apa-apa, kita tidak merasa nelangsa. Jadi seharusnya kita tidak apa-apa juga jika sekarang dihadapkan pada ketidakjelasan proyeksi masa depan.

Namun ingatan lama itu tadi rupanya tidak cukup mengobati. “Itu kan dulu, waktu masih kanak-kanak, serba belum tahu.”

Lalu kita membuat tujuan-tujuan kita sendiri, untuk menutupi beban rasa tadi. Dan agar lebih menghibur serta dramatis, kita beri istilah merdu: “mimpi”. Dan lelaplah kita dalam hidup yang tidak senyatanya.

***

Ketika kita percaya pola sebab-akibat sebagai narasi besar kehidupan, kita bisa merasa cukup dengan berbuat di saat ini. Berbuat adalah mengelola sebab-sebab. Sebab adalah dimensi di mana kita punya kuasa di dalamnya. Kita berkuasa atas tindakan kita, sebelum kita dikuasai oleh akibat-akibatnya.

Maka sekedar tumbuh saja, atau berproses saja, tidaklah serta-merta itu hampa akan tujuan. Tujuan sejati itu bukan dari kita, tapi dari Kuasa Agung. Ia punya agenda besar yang melingkupi banyak pihak. Demi pihak lain, kadang kita perlu merelakan hasrat-hasrat kita sendiri. Sementara itu, kita tidak henti dari berbuat baik, sebab kelak Kuasa Agung akan mengirimkan akibat-baiknya pada kita, sesuai skema-waktu-Nya sendiri.

Menyerahkan akibat itu bukan meminta-minta. Setiap permintaan selalu diawali oleh hasrat yang intinya adalah keakuan. Sering kali kita sejatinya mengedepankan keakuan, tapi lalu membalutnya dengan selimut religius. Yaitu saat kita menyerukan hasrat-hasrat, lalu menyebut nama Tuhan dalam posisi sebagai pihak yang dibebani untuk mewujudkan hasrat itu. Sesungguhnya kita telah memperalat Tuhan untuk ego kita sendiri. “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu!” begitu retorikanya.

Sedang orang yang benar-benar percaya akan kuasa Tuhan, justru tidak banyak menghitung-hitung akibat nanti, tapi menyerahkan itu di luar kuasa pribadinya. Sebab tanggung jawabnya adalah berbuat baik dalam dimensi sebab. “Biarlah Tuhan yang mengirim akibatnya, jika aku memang berhak.”

Bersyukur itu menghargai dan menikmati apa yang sedang tersaji, alih-alih menghasrati apa yang tidak dimiliki.

***

Harus saya akui bahwa bicara seperti ini dalam tataran intelek sangatlah mudah. Tapi manakala saya diceburkan dalam praktek atau pengalaman, mungkin saya akan terseok-seok juga menjalaninya. Ketika saya harus menyesuaikan diri dengan skema waktu Tuhan, ketika saya bertanya-tanya apakah layak untuk balasan atas tindakan yang dulu, semua ini menguras energi karena jawabannya bertahan lama dalam misteri.

Namun hidup yang nyata itu toh tidak di mana-mana, kecuali di sini saat ini. Dan saat ini selalu ada yang untuk dikerjakan dengan gembira, di samping getir-getir yang ada. Setidaknya, memperhatikan buah nangka tadi cukup menggembirakan dan dapat membawa pada perenungan panjang ini. Dengan demikian buah nangka itu akhirnya tiba pada tujuannya, yaitu untuk menjadi inspirasi yang mencerahkan.

Buah nangka kecil yang bakal segera gugur itu tidak sia-sia juga.


SAM_4735

Kolaborasi

Musim liburan kali ini saya jalani dengan kerja, karena kerja tak ubahnya liburan juga.

Sempat saya menulis bahwa ruang di dalam kanvas adalah otoritas senimannya. Dalam tulisan yang sama, juga saya singgung tentang kolaborasi yang mesti diikuti kejelasan informasi tentang siapa saja yang turut berkarya di dalamnya.

Untuk pertama kalinya, saya membuat lukisan kolaborasi bersama pelukis lain. Ini bukan tentang satu kanvas yang dibagi dalam ruang-ruang kecil, lalu masing-masing dilukisi dengan tema berbeda. Ini tentang satu tema yang dibuat bersama-sama.

Harus saya akui, ini bukan pekerjaan mudah. Untuk menjelaskan kesulitannya, saya perlu mengisahkan peristiwa yang terjadi pada setengah milenium lalu, di Italia, sebagai ilustrasinya.

Adalah Andrea del Verrocchio, seorang seniman dan guru lukis yang saat itu sedang membuat lukisan pembaptisan Kristus. Karena sibuknya, Verrocchio harus memberi instruksi pada salah satu muridnya untuk melanjutkan bagian yang belum rampung. Seorang bocah yang masih berumur belasan tahun, bernama Leo, melaksanakan tugas itu. Leo melukis sosok malaikat berjubah biru dengan wajah yang manis dan ekspresif.

Melihat hasil pekerjaan muridnya, Verrocchio tercengang, karena ternyata muridnya itu jauh lebih piawai daripada ia sendiri. Efek ketakjubannya tidak berhenti di situ. Ia merasa sudah tidak pantas lagi menjadi guru dari muridnya, dan bahkan ia merasa sudah tidak layak lagi menjadi pelukis. Semenjak itu ia tak pernah menyentuh cat lagi! Itu gara-gara ia telah berkolaborasi dengan Leo, yang nama lengkapnya Leonardo da Vinci.

Dalam kolaborasi seperti itu, ada pertarungan ego antar seniman yang berpartisipasi dalam satu karya. Demi keberhasilan, masing-masing seniman harus meredam egonya; merelakan sisa pekerjaannya dilanjutkan seniman lain. Entah jadinya nanti seperti apa. Jika kurang bagus, harus terima. Jika lebih bagus, mungkin akan seperti Verrocchio.

Kesulitan kedua adalah penyeimbangan teknis. Setiap pelukis memiliki corak goresannya sendiri-sendiri. Corak yang berbeda akan menghasilkan satu karya yang janggal, yang tidak konsisten pada bagian-bagiannya. Karenanya kemudian masing-masing pelukis perlu menjajaki corak goresan kolaboratornya. Ini berarti juga diperlukan adanya kesediaan untuk sejenak meninggalkan kebiasaan, dan lalu menempuh cara liyan.

***

Kolaborasi yang baru saja saya lakukan adalah dengan pelukis Salatiga yang sudah cukup beken, Isworo. Kesempatannya dilakukan dalam acara pameran dan demo bersama di Laras Asri Resort and Spa, Salatiga, pada penghujung tahun 2015 kemarin, selama enam hari. Masing-masing mengawali lukisannya di dua kanvas terpisah, dari bagian atas. Setelah hari ketiga, dua lukisan yang setengah jadi itu ditukar untuk dilanjutkan di bagian bawahnya. Satu lukisan lagi dikerjakan bergantian, sebagai respon dari goresan Wali Kota Salatiga dalam acara pembukaan.

Proses awal Proses lanjutan

Kami berhasil merampungkan pekerjaan ini hingga membubuhkan nama masing-masing pada pojok lukisan bagian bawah. Satu lukisan dua nama. Dan hasilnya–masih dengan segala kekurangan yang ada karena pengalaman pertama kali–kemudian dilelang pada malam tahun baru untuk disumbangkan ke panti asuhan.

Dari pengalaman ini, bertambahlah pengetahuan saya tentang menata pikir, rasa, dan gaya dalam praktek berkarya yang lebih kompleks. Sebuah pelajaran yang sangat berharga. Usai semuanya, saya kembali pada otoritas penuh atas setiap kanvas yang saya lukisi.

Saya mrengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung. Pak Isworo kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bagian bawah.

Saya mengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung.
Pak Isworo kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bawahnya.

Pak Isworo mengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung. Saya kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bagian bawah.

Pak Isworo mengawali lukisan ini pada bagian langit dan gunung.
Saya kemudian melanjutkan bagian gerumbul pohon dan sawah di bawahnya.