Coretan Pikiranku dalam Pandemi #6 Jericho

Awan cendawan muncul di cakrawala, tampak dari sebuah kota kecil di negara bagian Kansas. Bom nuklir telah saja meledak di arah barat, kemungkinan di kota Denver, negara bagian Colorado.

Kepanikan muncul di kota kecil bernama Jericho ini. Terlebih setelah badai datang dari arah ledakan itu menuju timur. Hujan yang membawa radiasi akan menggulung kota dalam dua jam ke depan. Orang-orang segera membuat lobang-lobang perlindungan, ruang-ruang yang tidak boleh ada celah masuknya radiasi nuklir. Mereka akan bertahan di sana, sampai bahaya yang mengancam nyawa itu berlalu.

Untuk berapa lama?

Pertanyaan ini melahirkan kepanikan. Toko-toko diserbu. Bahan makanan diborong. Perkelahian sempat muncul sebelum akhirnya dilerai oleh yang berwenang. Kabar buruk datang; bus sekolah yang mengantar anak-anak TK sejak pagi belum kembali hingga petang. Ibu-ibu yang terpisah dari si kecil melabrak pejabat kota, mendesak agar bus rombongan itu ditemukan. Dua mobil patroli polisi segera diutus untuk tugas tersebut.

Jika semua kepanikan ini belum cukup menegangkan, masih ada lagi satu bus pengangkut narapidana terdampar di pinggiran kota, membuat dua penjahat kejam berhasil kabur, dan lalu membunuh dan membajak identitas polisi yang sedang mencari rombongan anak-anak TK tadi.

Demikianlah penulis cerita suspen sering menjadikan lolosnya tahanan sebagai klimaks dari kengerian cerita fiksi, seperti yang dikerjakan oleh Stephen Chbosky pada film serial berjudul Jericho ini. Penonton dibuat gemas sekaligus cemas, menunggu bagaimana akhir dari setiap kengerian itu. Tetapi terhadap semua fiksi, penonton cukup duduk diam untuk terus mengikuti alurnya. Akhir yang baik sudah disediakan.

Tetapi tidak dengan kengerian faktual. Di negeri ini beberapa waktu silam, cerita serupa ini bukan sekedar fiksi. Pandemi yang tidak jelas kapan berakhirnya ini sudah memaksa orang mencemaskan segala hal: kesehatan, ekonomi dan masa depan keluarga. Itu semua belum cukup memyempurnakan penderitaan. Narapidana pun dilepas ke tengah masyarakat yang sedang dilanda kesulitan.

Di saat yang sama tiba-tiba orang tak dikenal disebar ke tengah publik di malam hari, entah oleh siapa. Mereka yang tertangkap dan diinterogsi di berbagai tempat berbeda menunjukkan persona sebagai orang gila. Respon yang seragam, seperti sudah terprogram. Spekulasi pun berkembang bahwa ada sindikat kejahatan yang menunggangi situasi, menggaruk di air keruh. Masyarakat menanggapi semua ini dengan peningkatan kewaspadaan. Ronda malam dirutinkan, gang-gang ditutup bagi akses orang tak dikenal. Xenophobia menjadi pandemi virus baru. Inikah sasarannya?

~o()o~

Anjuran untuk menjaga jarak fisik demi memutus rantai penyebaran virus corona dimentahkan sendiri dengan kebijakan lain. Bagaimana bisa warga yang meronda di ujung gang, yang sedang mencemaskan keamanan lingkungan, harus tetap menjaga jarak dari sesamanya? Bisakah ronda malam disebut sebagai work from home? Haruskah virus yang katanya bertahan hidup di suhu dingin itu dijemput lewat ronda malam? Keselamatan siapa yang katanya diutamakan?

Saya tiba-tiba tidak mengerti dengan negeri ini.

20200509_221139

Saya menghampiri peronda malam yang mencoba mengejar orang yang dicurigai sebagai pencuri motor.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #5 Kritik Kebudayaan

Sering kali praktek kebudayaan telah tereduksi menjadi sekedar ritus presentasi seni di tengah publik, dianggap semacam pertunjukan atraktif di mana penonton secara otonom menangkap sendiri bagian menarik yang dikehendaki dan mengabaikan lainnya. Tingkat kesadaran dan pengetahuan penonton sangat berpengaruh pada sejauh mana presentasi itu tersampaikan. Dalam durasi dan ruang yang terbatas, kehadiran pengantar kuratorial sering kali tidak memungkinkan. Bahkan buku-buku katalog pameran lukisan oleh pembaca hanya dilihat gambarnya saja. Teks kuratorial yang susah payah dihadirkan selalu diabaikan.

Penanda-penanda budaya itu merentang dalam spektrum jaman; dari yang tradisional hingga yang pos-modern. Kebudayaan tradisional sering dikategorikan sebagai yang mendalam dan luas, yaitu penanda-penandanya merujuki nilai-nilai yang terus dihayati dalam keseharian. Sedang kebudayaan pos-modern* sudah terang-terangan menyatakan supremasi penanda; tak usah digali maksudnya, yang penting saat ini gembira. Publik audien agaknya terbiasa dalam paparan jenis yang belakangan ini. Mereka tidak mau repot dengan kedalaman. Dan itu berpengaruh pada jenis yang pertama. Presentasi kebudayaan tradisional diperlakukan dengan respon yang sama.

Maka bagi masyarakat awam, praktek kebudayaan kemudian hanya merupakan tindakan menangkap penanda-penanda dari presentasi kesenian yang mereka jumpai. Tak ada kesadaran yang terakses dari wujud-wujud yang kentara itu, sebab mereka pun tidak mau dipusingkan dengan narasi yang mengutarakan maksud. Mereka hanya mau disentuh rasa dangkalnya lewat penanda yang memukau indera. Ini seperti dua orang yang keluar dari gedung bioskop, salah satu bertanya pada yang lain, “Tadi filmnya tentang apa, sih?” Dijawab, “Mana aku tahu?”

~o()o~

Virus mewabah, memaksa semua orang mundur ke dalam ruang-ruang aman, menjauhi sesamanya. Presentasi kebudayaan ditangguhkan hingga mengalami hibernasi. Penanda-penanda budaya itu tak lagi dijumpai. Jika penanda selama ini dipenggal dari petanda dan sekaligus realitanya, maka tak ada lagi yang tersisa dalam masa pandemi ini.

Di masa-masa wajar, manusia telah merasa puas hanya oleh kulit. Di masa sulit saat kulit itu harus disembunyikan, manusia kesepian dalam kebudayaan sebab tak pernah menggenggam isi. Gejalanya bisa dikenali dari tidak betahnya mereka untuk bertahan di dalam rumah, dan mulai memadati lagi ruas-ruas jalan aspal, memapar diri pada resiko dengan berbagai dalih yang sebenarnya untuk melepas rasa haus akan penanda-penanda.

Kecuali mereka yang menjangkarkan penanda-penanda itu pada nilai-nilai idealis dan fakta-fakta realis, akan bertahan dengan sibuk merakit kembali penanda-penanda baru, dan mempresentasikannya dalam medium yang berbeda. Idea itu permanen, sedang kulit boleh terus disusun ulang. Dengan keutuhan penanda dan petanda, tanda dan realita, kulit dan isi, sekaligus pikir dan rasa, maka hakikat bisa dicapai.

Mereka yang menggenggam hakikat akan selalu merasa penuh dalam kesendirianya.

__________
*Tidak semua kebudayaan pos-modern saya prasangkai, banyak pula yang layak diapresiasi bahkan dihayati.

Didi Kempot

Dari lagu-lagu Didi Kempot saya sempat mengerti–secara satire–bahwa asmara itu berbanding lurus dengan derita; setidaknya itu yang saya rasakan selama hidup melajang dan dalam pencarian. Asmara selalu berurusan dengan perpisahan dan kekecewaan, sehingga melodi-melodinya disusun sendu mendayu. Lagu-lagu ini mungkin hasil sublimasi, tapi bukan mesti dari pencipta dan penyanyinya sendiri. Setidaknya sublimasi dari tekanan jiwa kolektif; semua orang memilikinya.

Oleh karena itu lagu-lagu Didi Kempot yang berkarakter etnik itu menjadi populer, yang artinya sangat berterima dengan khalayak ramai, khususnya masyarakat Jawa. Konser amalnya lewat media online yang sukses menggalang dana besar dan rencana konser di GBK November nanti menunjukkan bahwa lagu-lagunya sudah menembus batas etnisitas. Masyarakat penutur bahasa selain Jawa bisa turut menikmati.

Dengan demikian Didi Kempot secara tidak langsung membuktikan bahwa ada struktur pusat dalam kebudayaan yang dari sana terhubunglah penanda-penanda yang beragam dan individual itu. Seperti digambarkan oleh Carl G. Jung dengan pulau-pulau yang seolah terpisah oleh air laut namun sebenarnya menyatu di kedalamannya.

~o()o~

Rencana konser di ibu kota itu tak pernah terwujud. Didi harus berpulang lebih cepat dari rencananya. Seniman selalu lebih nyaring dalam karya justru setelah kematiannya. Mungkin ini yang terbaik bagi alur hidup sang legenda; meninggal pada saat-saat ia dicinta sedemikian besarnya.

Dan ijinkan saya sedikit mengekspresikan rasa kehilangan ini dengan melukis potret Almarhum, untuk menyatakan bahwa ada yang abadi darinya.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #4 Cara Betah

Satu-satunya jalan menuju luar adalah masuk.

Karena meninggalkan rumah beresiko terpapar virus yang mungkin saja diusung orang yang tampak sehat, maka cara menjelajahi luasnya dunia adalah dengan masuk ke dalam kanvas.

Teman-teman pelukis pasti mengerti pengalaman serupa ini, yaitu saat kesadaran meninggalkan tubuh dan mengembara bersama objek yang sedang dilukis. Ada istilah untuk menandainya: ekstasis.

Sebab ekstasis yang bisa dialami ini, beberapa lukisan meminta waktu lebih lama untuk dirampungkan. Jangan pernah usai bila perlu, sebab setiap goresan mengantar sejauh puluhan kilo meter. Dan setelah kuas diletakkan, seketika ruang studio menjelma, mengingatkan himpitan dinding di empat penjuru dengan bahaya wabah yang mengintai di seberangnya.

Tapi setiap kanvas tentu memiliki akhir episodenya sendiri. Dan lebih ekonomis jika cat yang tersedia digunakan pada kanvas yang baru. Karena itu lukisan lain pun tercipta lagi dengan kenikmatan proses seperti sebelumnya.

Piknik yang menemukan bentuk alternatifnya ini berdampak positif pada produktifitas. Dan ini konsisten dengan apa yang telah lama saya nyatakan di media sosial, bahwa kerja dan liburannya pelukis itu terjadi serempak.

Pandemi tentu saja membawa perbedaan, yaitu terenggutnya kesempatan presentasi seni ke tengah publik. Gelar pameran atau demonstrasi melukis tak akan mengundang orang yang harus menjaga jarak. Tapi ini pun masih bisa disiasati dengan media online. Video proses melukis yang dihias musik instrumental yang bisa diunduh gratis di youtube, bisa menarik perhatian kawan-kawan dalam jaring pertemanan. Citra karya dan proses pembuatannya pun tersampaikan ke publik.

Tujuh pekan sudah saya bertahan di dalam rumah. Jumlah korban terinfeksi di kota kecil ini terus bertambah. Terakhir kali saya cek, ada 11 orang yang dinyatakan positif, tujuh di antaranya berhasil disembuhkan. Empat korban meninggal justru dari pasien yang dinyatakan negatif. Hasrat keluar pun semakin ditekan. Tapi jalan aspal yang melintang di depan sudah dirayapi kendaraan yang mengangkut orang-orang bosan. Saya memilih untuk tetap di sini, sebab masih banyak untuk dikerjakan dengan gerak tubuh maupun pikiran.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #3 Teori Kritis

Modernitas yang dihayati di Barat telah menciptakan generasi yang sakit. Perombakan cara berpikir pun dilakukan. Ilmu pengetahuan yang objektif dan netral dianggap tidak berkontribusi pada kehidupan masyarakat. Lahirlah mazhab Frankfurt pada tahun 1930-an dengan teori-teori kritisnya.

Teori kritis menyatakan ketidakpuasan pada objektifitas ilmu pengetahuan yang seolah hanya bertindak sebagai deskripsi sosial dalam bentuk tanpa isi, ilmu yang berkembang demi ilmu itu sendiri. Teori kritis menghasrati ilmu yang memiliki kontribusi praktis untuk mengubah keadaan ‘saat ini’ menjadi semakin lebih baik. Dengan demikian teori kritis juga akan merombak struktur pemikirannya sendiri suatu saat nanti. Tak ada yang abadi di luar sana.

Dunia pendidikan kita masih dibanjiri ilmu-ilmu objektif. Pelajar bertanya-tanya kenapa mereka diajari ini dan itu, yang tampaknya tak akan pernah mereka gunakan dalam hidup ke depan, sampai mati sekalipun. Sarjana berbelok arah, menekuni pekerjaan yang tidak ada relasinya dengan gelar akademis yang dirampungkan. Saya bertanya-tanya, sejak kapan saya butuh menganalisis klausa dan frasa pada tiap kalimat setiap kali membaca buku, sementara kerepotan menggubris bentuk semacam itu menjadi kewajiban kurikuler.

Indonesia masih belum mentas dari modernisme, belum menghayati teori-teori kritis, belum siap berubah, masih ingin mapan dalam objektifitas ilmu pengetahuan, masih menggumuli sesuatu yang tidak jelas manfaatnya. Sampai akhirnya virus menyebar ke tengah masyarakat dan menantang semua kemapanan, sambil mempertanyakan ulang segala ilmu yang ada.

Zona nyaman berupa komunalitas di luar sana sedang diobrak-abrik, berapa banyak cabang ilmu telah dipatahkan? Transaksi tidak berjalan, pembeli tidak mendatangi penjual, berapa banyak skema berpikir harus direkonstruksi?

Teori kritis berlanjut dengan pemikir-pemikir yang mengajarkan metode berpikir lateral dan kreatif. Yang terakhir ini yang sekarang kita butuhkan untuk menggagas suatu struktur kemapanan baru, yang sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan.

Di luar sana memang banyak yang harus siap berubah, seperti air bersedia menyesuaikan bentuknya dengan yang mewadahi. Dan jika semua itu melelahkan–meski itu keniscayaan–maka mungkin kita bisa melangkah ke dalam, menuju yang mutlak. Berdamai di sana saja.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #2 Bertahan

Tinggal di rumah dalam jangka waktu lama menjadi ujian bagaimana kita mewujudkan semboyan “rumahku istanaku”. Sejauh mana ruang kita berteduh ini menjadi perlindungan tubuh dan jiwa, yang ketika setiap lantai, dinding dan atapnya menghimpit di enam sisi, kita tidak menghasrati ruang lain di seberangnya.

Rumah bertambah fungsinya menjadi benteng pertahanan; satu tambahan tugas dibebankan padanya: menahan datangnya sesuatu yang tak kasat mata, yang menunggangi manusia sebagai kendaraan. Maka orang lain di luar rumah itulah yang dihadang. Kodrat sosial dipertahankan dengan moda interaksi berbeda. Saluran komunikasi pun diupayakan melalui jaringan internet. Benteng itu hanya akan membatasi tubuh biologis.

Gerak jasmaniah yang menjadi syarat interaksi sosial berkurang. Banyak orang mulai mencemaskan massa tubuhnya yang berkembang. Di saat yang sama saya justru mendapati angka-angka pada timbangan digital itu menurun. Ada beberapa ons yang hilang.

Social distancing ini secara praktis mengurangi berbagai bentuk distraksi yang tidak perlu. Dengan pikiran yang fokus, saya lebih produktif dalam berkarya. Jadwal perkuliahan yang sejak semester pertama dulu dilakukan secara online juga sedang berlangsung di semester keempat. Energi mental turut diperas. Sebuah tantangan dari Asosiasi untuk memvideokan proses melukis juga saya sambut dengan gembira. Melukis yang direkam membutuhkan tambahan energi fisik dan psikis demi keindahan sinematik, selain kindahan lukisannya.

Covid-19 itu sendiri adalah barang baru yang untuk menempatkannya di luar pengetahuan bakal beresiko pada keselamatan jiwa. Paling tidak, cara kerja virus ini pada tubuh manusia dan cara persebarannya harus diketahui dalam pemahaman yang cukup. Orang biasa cemas berada di zona ketidaktahuan. Satu lagi energi mental perlu dialokasikan.

Waktu luang seperti dihadiahkan bagi warga negara. Tapi bagi saya sama saja. Seniman selalu menentukan sendiri kapan mau bekerja, dan kapan beristirahat. Ketika masa presentasi seni ke publik sedang ditangguhkan, inilah saatnya menggenjot produktifitas, seperti petani yang semakin rajin turun ke ladang sampai panen tiba. Dan jika hasil panen itu masih belum bisa dikirim ke pembeli, masih ada lumbung untuk menyimpan dengan aman.

Saat wabah ini nanti berakhir, saya mau keluar sebagai pemenang.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #1 Dunia Seni

Lima pekan lebih kami tempuhi hidup dengan mendekam di dalam rumah, melakukan semua kewajiban profesional di tempat sendiri, sambil mengesmpingkan kodrat sosial manusia. Kami semula mengira jika setelah dua pekan, semua akan kembali normal. Tapi ternyata pembatasan sosial ini berlarut-larut. Virus ini selalu menemukan jalan kelestarian eksistensinya lewat manusia-manusia gamang.

Les melukis di galeri yang biasa diramaikan anak-anak dan remaja dengan bimbingan dua seniman telah lama tidak aktif berbarengan dengan diliburkannya lembaga-lembaga pendidikan pada pertengahan Maret lalu. Galeri lukis yang merupakan tempat interaksi orang dengan benda seni seketika sepi.

Dalam situasi normal, seni sudah ditempatkan dalam lapis ketiga atau bahkan keempat dalam kebutuhan; sebagai kebutuhan tersier atau kuartener. Dalam hirarki kebutuhan Maslow, seni menempati kebutuhan aktualisasi diri melampaui rasa aman dan harga diri. Banyak sekali anak tangga untuk ditapaki hingga orang tiba pada keputusan untuk memperindah hidupnya. Bahkan saya menyaksikan mustahilnya mewujudkan kebersihan di lingkungan terdekat oleh masyarakat. Di masa pandemi ini pun, melalui CCTV saya masih melihat ada orang kampung yang dengan enaknya membuang ingus di trotoar setiap kali melintas di jalan.

Wabah ini seketika memerosotkan kebudayaan dalam hibernasi, dan manusia dalam kebutuhan instingtif. Setiap tindakan dilakukan dalam pertimbangan untuk tetap hidup. Kesampingkan dulu soal estetika, yang penting perut terganjal. Oleh karena kemandegan semacam ini, seni akan mendapat giliran pertama untuk mati.

Dalam masa pos-pandemi nanti, seni akan mendapat giliran terakhir untuk beranjak bangkit, setelah manusia memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar dan rasa amannya, terutama di bidang ekonomi. Berapa lama pemulihan ekonomi itu berlangsung? Jangan dulu pertanyaan ini, sedangkan kapan wabah ini selesai pun tak ada yang bisa menjawab.

Dibungkam

Jika pada postingan sebelumnya saya sebutkan bahwa dunia akademis diasingkan dari penghayatan hidup sehari-hari, kini saya mau mengungkapkan secara lebih blak-blakan tentang fakta sosial di sekitar saya.

Upaya emansipasi penyandang cacat dimandulkan.

Telah cukup lama saya bersikap kritis terhadap istilah “penyandang disabilitas” dan “difabel” yang disematkan untuk orang-orang dengan tubuh tidak genap. Saya berargumen bahwa dua istilah yang telah dilembagakan oleh negara tersebut justru merugikan kami, sebab ada prasangka bahwa kami adalah orang-orang yang dilekati oleh ketidakmampuan. Kami tidak pecus.

Atas dua istilah yang stigmatis ini saya melakukan pembuktian terbalik. Saya melatih diri menembus ketidakmampuan, sehingga saya patut bertanya, apa yang disable di sini?

Lebih jauh dengan menggunakan dalil-dalil filosofi Habermas tentang komunikasi kesetaraan, saya menuntut agar penyandang cacat benar-benar diperlakukan sebagai subjek. Dalam konteks dua istilah stigmatis tadi, saya minta agar penyandang cacat diberdayakan terlebih dahulu dengan berbagai disiplin ilmu, seperti linguistika, epistemologi, dan semiologi, untuk kemudian ditanya apakah bersedia menyandang istilah disabilitas. Sehingga istilah itu bukan sekedar pemberian yang tak bisa direspon secara aktif, seolah kami ini bayi yang tidak bisa memilih namanya sendiri.

Sikap dan tuntutan saya berujung tuduhan dan kecurigaan bahwa saya sedang mencari panggung sendiri. Tuduhan tersebut dilontarkan justru oleh aktivis bertubuh normal yang mengurusi para penyandang cacat. Sementara saya adalah subjek yang berada di seberangnya, yang bersama subjek lain yang biasa dia urusi. Semestinya dia mendengar dan mengakomodir pemikiran dari perspektif kami, bukan berlagak sudah tahu apa yang kami butuhkan. You are not me, in fact.

Sementara penyandang cacat lain, karena sikap mereka yang manis dan menerima, akan dijunjung-junjung. Sikap menerima itu tidak lain adalah konsekuensi dari ketidakberdayaan yang melekat permanen.

Jadilah tetap lemah dan tak berdaya agar terus disayang. Dan yang disayang itu adalah objek yang menyenangkan.

Saya memilih menjadi subjek. Karenanya saya menolak menjadi lemah.

Kampus Masih Dijauhkan dari Kehidupan

Saya sempat merasa kasihan pada mahasiswa. Mereka demikan bersemangat mempelajari teori-teori hasil pemikiran orang-orang cerdas di berbagai masa; mencermati perkembangan cara pandang atas kehidupan yang berubah dan berganti di setiap jaman.

Mereka di kampusnya mempelajari, misalnya, klasifikasi kesadaran dalam teori kritis yang pada tingkat tertinggi harus memiliki kesadaran kritis dan transformatif, yaitu untuk menemukan yang tidak beres dari apa yang sedang terjadi, dan lalu berupaya melakukan perubahan. Mereka mengiyakan dan mengamini kata-kata Jurgen Habermas bahwa setiap individu mesti menjadi subjek yang aktif, agar jangan sampai diobjekkan oleh liyan hingga hanya bisa diam menerima. Demikian juga sebaliknya.

Lalu ada di antara mahasiswa itu yang yakin dapat mengubah dunia setelah keluar dari kampus nanti dengan ilmu yang sudah dimiliki, sebab mereka sudah lama melihat ada yang tidak beres di lingkungan hidupnya yang luas.

Tapi apa yang kemudian mereka jumpai?

Teori-teori itu tiba-tiba menjadi tumpul dan tak berlaku di lapangan kehidupan. Cita-cita mereka untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah susah payah dicari pun binasa seketika. Ilmu itu lumpuh di hadapan bias-bias kekuasaan, birokrasi, dan mayoritas.

Kesadaran kritis mereka berhenti di situ tanpa beranjak menuju transformasi, sebab perubahan akan dicurigai sebagai subversi. Perubahan dianggap penentangan atas kesepakatan lembaga-lembaga negara, yang sesungguhnya belum tentu benar dan mengerti. Upaya mereka untuk menjadi subjek tak terwujud barang secuil, sebab kewajiban mereka adalah patuh menerima dengan punggung yang tertekuk.

Lalu para mahasiswa yang telah menjadi sarjana itu pun melakukan refleksi ke masa lalunya yang belum begitu jauh. Ilmu, teori, metode yang diajarkan di kampus dulu ternyata hanya sebagai barang mewah yang dipajang dalam etalase megah, dengan kaca pelindung yang tebal. Semuanya bisa dilihat, menggoda, mengagumkan, tapi tak bisa dimiliki untuk diwujudkan; sebab kebenaran di lapangan kehidupan tetap saja milik kekuasaan.

Mereka pun bertanya, apa gunanya mencerdaskan kehidupan bangsa?

Cukup Aku Saja

Saya pernah berdoa, semoga saya menjadi manusia terakhir yang terlahir cacat di muka bumi ini.

Doa ini tidak pernah terkabul. Hingga kini masih saja ada bayi-bayi terlahir dengan struktur biologis tidak sewajarnya, yang sekaligus mengurangi fungsi-fungsi motorik bahkan mentalnya. Apakah saya kurang serius dan tulus dalam berdoa?

Ini masalah misterius kehidupan yang masuk ranah kepercayaan. Maka saya tidak akan berlam-lama di sana. Beda agama, menyajikan beda narasi. Satu bicara takdir, satu lagi tentang perputaran. Ini soal kecocokan pribadi.

Tapi yang ingin saya tekankan adalah, saya benar-benar dengan sepenuh hati berharap tidak ada orang melanjutkan/menggantikan situasi yang saya alami. Maka saya tidak setuju dengan model perjuangan untuk menuntut kemudahan aksesibilitas melalui penanaman pikiran bahwa siapa pun bisa menjadi cacat.

Orang Jawa punya istilah ngalup, yaitu pengharapan buruk untuk terjadi di masa depan. Kata ini hanya bisa dipahami lewat rasa. Dan siapa pun yang menjumpai rasa itu akan berhati-hati dengan pikiran dan kata terucap maupun tertulisnya.

“Kalau aku tidak kamu tolong, kamu akan mengalami seperti aku.” Betapa dunia ini penuh kekerasan dengan diplomasi seperti ini. Saya tetap bertahan dengan doa yang tak terkabul itu, “Semoga tidak ada lagi bayi terlahir cacat, ataupun orang yang mengalami kecelakaan dan harus diamputasi. Akhirnya, biarkan saya sendirian dalam kondisi ini, dan bahkan menjadi minoritas dalam minoritas.”