call

Sakit?

Ketika ada jaringan tubuh kita yang rusak, simpul-simpul saraf di sekitarnya akan mengirim sinyal ke otak. Oleh otak sinyal tersebut diterjemahkan sebagai rasa yang tidak nyaman, bahkan menyiksa. Itulah yang kita sadari sebagai sakit; keseluruhan situasi itu, rasa dan sumbernya. Pada perkembangan fisiologis berikutnya, jaringan yang rusak tadi dapat kembali pulih, lewat proses alami atau upaya penyembuhan, dan rasa tidak nyaman pun hilang. Kondisi ini disadari sebagai sehat, kondisi dimana tubuh tidak bermasalah dan otak tidak menerjemahkan sinyal-sinyal yang menyiksa.

Begitulah saya memahami kata sakit jasmaniah, dan antonimnya sehat, secara mendasar. Namun sakit sebagai kata rupanya tidak selamat dari perluasan makna. Orang menggunakannya untuk mengkonstruksi suatu pandangan, dan untuk mencapai suatu tujuan. Sakit yang semula lebih ditandai oleh rasa, sekarang dipisahkan dari rasa itu. Sakit bukan lagi tentang jeda waktu seseorang saat merasakan derita badaniah, yang jeda itu bakal berakhir menjadi sehat, tapi tentang kondisi permanen jasmaniah karena adanya organ tubuh yang absen, sekalipun orang yang bersangkutan tidak merasakan penderitaan.

Perluasan makna yang dibuat-buat ini mudah kita jumpai dalam diskusi politik tentang syarat untuk menduduki kursi tertentu, berupa frasa ‘sehat jasmani’ yang antonimnya bukan ‘rasa sakit jasmani’ tapi ‘penyandang cacat’. Saya katakan dibuat-buat karena nuansa pragmatisnya pekat sekali, yaitu untuk menghalangi pihak lain sambil memuluskan jalan sendiri demi satu tujuan, persis sebagaimana natur dunia politik.

Sekarang berkat frasa ‘sehat jasmani’ ini, para penyandang cacat –seperti saya– dimasukkan dalam golongan orang sakit, meskipun saya tidak sedang masuk angin, tidak sedang dihinggapi virus, bakteri, ataupun jamur yang menggerogoti jaringan tubuh. Terima kasih kepada negara yang sudah melahirkan kekacauan ini lewat perseteruan politiknya di lembaga-lembaga terhormat sana.

Orang cacat pun berkarya

Ironisnya, di saat istilah penyandang cacat telah berevolusi menjadi istilah difabel, disusul kemudian dengan penyandang disabilitas, negara sudah lebih sukses dengan label ‘sakit’ yang dianugerahkan pada kami. Kesuksesan ini ditandai dengan diadopsinya frasa sehat jasmani oleh instansi dan lembaga-lembaga bisnis dalam proses perekrutan tenaga kerja sebagai syaratnya. Yang itu berarti negara telah memberi inspirasi untuk melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang nomor 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, khususnya pasal 14.

Evolusi kata sakit belum berhenti. Kata sakit sekarang memiliki kedekatan dengan kata sakti. Prakteknya, ketika seseorang mengaku dirinya sakit, maka dia akan kebal dari konsekuensi keadilan; dia bisa tetap leluasa mengunyah-ngunyah kenikmatan yang sebelumnya dia hisap dari kerongkongan orang lain, setelah memangkas aturan main dengan kekuatan alat tukar, tanpa khawatir disentuh oleh hukum. Segala dosanya seperti harus diampuni saja, tak perlu diingat lagi.

Nah, kalau penyandang cacat termasuk golongan orang sakit, bagaimana kalau kami melakukan korupsi atau bribery saja, toh kami sudah memiliki kesaktiannya? Duh, kacaunya negeri ini.

Melukis Sebagai Tanggung Jawab Sosial

Sebagian kawan pelukis pernah mengaku pada saya bahwa mereka tak bisa berkarya ketika ada orang lain memperhatikan proses kerjanya. “Aku ora isa nggambar nek diperhatekne wong liya. Apa meneh neh sing merhatekne si Sabar.” Walah… saya sendiri sebenarnya masih belajar.

Meski demikian, bagi saya melukis di hadapan orang banyak adalah ritual wajib, sebagai pembuktian bahwa karya-karya itu memang benar-benar dilukis dengan kaki ini, bukan meminjam tangan orang lain. Tapi jika kemudian ditemukan selisih nilai kualitas, mohon dipahami sebagai efek dari perbedaan lamanya proses. Melukis dengan batas waktu hanya setengah jam, tentu beda dari melukis dengan rentang waktu satu bulan.

Ditambah lagi faktor kecemasan yang ditimbulkan dari tak terkendalinya keramaian penonton, yang kebanyakan adalah anak-anak, praktis berdampak pada goresan di kanvas itu. Kita tahu, anak-anak masih sangat bergairah terhadap kehidupan, hasrat kuriusitasnya besar sekali, gerak mereka sungguh di luar antisipasi. Dalam jeda waktu tertentu mereka bisa diam anteng memperhatikan, lalu tiba-tiba berbalik badan dan lari menghambur ke temannya, mengguncang lantai panggung yang labil. Setelah itu, dalam jarak tiga meter saja dari kanvas, mereka memperagakan adegan smack down sambil berteriak kegirangan.

Melukis di hadapan anak-anak, selelah apa pun, adalah tanggung jawab sosial yang harus saya kerjakan. Anak-anak itu harus tahu bahwa kehidupan ini menyambut kehadiran mereka lewat semangat dan keindahan. Bahwa mereka layak meneruskan hidup mereka, terlepas dari penderitaan yang pasti kelak bakal menyertai juga. Mereka harus diyakinkan, “Hei, hidup ini baik lho, ayo jalani dengan cara yang baik pula.”

Selagi anak-anak itu terbuka dengan segala input, tidakkah lebih baik memperkenalkan keindahan pada mereka? Dengan demikian keindahan yang tertanam dalam diri mereka itu pula yang kelak akan mereka reproduksi dalam kehidupan. Saya sendiri sebenarnya tidak representatif sebagai yang indah itu, saya tidak cukup ceria untuk dihadirkan di hadapan anak-anak, tak seramah dan sekebapakan almarhum pak Tino Sidin, misalnya. Namun sedikit saja interaksi dan senyum kepada mereka apa sulitnya?